Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 November 2011

Sejarah Vespa yang Mendunia

Bukasanabukasini Sejarah Vespa dimulai lebih dari seabad silam, tepatnya 1884. Perusahaan Piaggio didirikan di Genoa, Italia pada tahun 1884 oleh Rinaldo Piaggio. Bisnis Rinaldo dimulai peralatan kapal. Tapi di akhir abad, Piaggio juga memproduksi Rel Kereta, Gerbong Kereta, body Truck, Mesin dan Kereta api. Pada Perang Dunia I, perusahaannya memproduksi Pesawat Terbang dan Kapal Laut. Pada tahun 1917 Piaggio membeli pabrik baru di Pisa dan 4 tahun kemudian Rinaldo mengambil alih sebuah pabrik kecil di Pontedera di daerah Tuscany Italia. Pabrik di Pontedera inilah yang mana menjadi Pusat produksi pesawat terbang beserta komponen-komponennya (baling-baling, Mesin dan Pesawat) Selama Perang Dunia II, pabrik di Pontedera membuat P108 untuk mesin Pesawat dua penumpang dan Versi Pembom.
Bukasanabukasini.


Lahir Kembali 

Pada akhir Perang Dunia II, pabrik Piaggio dibom oleh pesawat sekutu. Setelah perang usai, Enrico Piaggio mengambil alih Piaggio dari ayahnya (Rinaldo Piaggio). Pada saat itu perekonomian Italia sedang memburuk, Enrico memutuskan untuk mendisain alat transportasi yang murah. Enrico memutuskan untuk fokuskan perhatian perusahaannya pada masalah personal Mobility yg dibutuhkan masyarakat Italia. Kemudian bergabunglah Corradino D’Ascanio, Insinyur bidang penerbangan yang berbakat yang merancang, mengkonsep dan menerbangkan Helikopter Modern Pertamanya Piaggio. D’Ascanio membuat rancangan yang simple,ekonomis, nyaman dan juga elegan. D’Ascanio memimpikan sebuah revolusi kendaraan baru. Dengan mengambil gambaran dari tehnologi pesawat terbang, dia membayangkan sebuah kendaraan yang dibangun dengan sebuah “Monocoque” atau Unibody Steel Chassis. Garpu depan seperti Ban mendarat sebuah pesawat yang mana mudah untuk penggantian ban. Hasilnya sebuah design yg terinspirasi dari pesawat yang yang sampai saat ini berbeda dengan kendaraan yang lain.
 

Maka pada 1945, konstruksi alternatif tersebut ditemukan. Awalnya memang sebuah konsep sepeda motor berkerangka besi dengan lekuk membulat bagai terowong. Mengejutkan, ternyata bagian staternya dirancang dengan menggunakan komponen bom dan rodanya diambil dari roda pesawat tempur.
 

Guna mengoptimalkan bentuk dan keamanan penggunanya, pabrikan yang kala itu masih terbilang sebagai usaha ''kaki lima'' merancang papan penutup kaki pada bagian depan. Proyek ini langsung dipimpin oleh Corradino d'Ascanio. Karena itu, hak paten pun segera dapat mereka kantongi.
 

Hasilnya, muncullah pertama kali produk motor dengan seri MP5. Kendaraan ini berteknologi sederhana tetapi punya bentuk yang amat menarik, bagai binatang penyengat (lebah/tawon) karena bentuk kerangkanya.
 

Namun, karena bentuk penutup pengaman yang bagai papan selancar itu, sejumlah pekerja di pabrik Piaggio pun bahkan mengatakannya sebagai motor Paperino. Harap diingat, Paperino adalah sindiran sinis untuk tokoh Donald Duck (bebek). Maka, d'Ascanio pun putar akal untuk memperbaiki model tersebut.
 

D’ascanio hanya membutuhkan beberapa hari untuk mengonsep ulang bentuk desain kendaraannya dan prototipnya diberi nama MP6. Saat Enrico Piaggio melihat protototip MP6 itu, ia secara tak sengaja berseru “Sambra Una Vespa” (terlihat seperti Tawon). Akhirnya dari seruan tak sengaja itu, diputuskan kendaraan ini dinamakan ‘Vespa’ (tawon dalam bahasa Indonesia). Pada April 1946, prototip MP6 ini mulai diproduksi masal di pabrik Piaggio di Pontedera, Italia.
 

Pada Akhir 1949, telah di produksi 35000 unit dan dalam 10 tahun telah memproduksi 1 Juta unit dan pada pertengahan tahun 1950. Selama tahun 1960-an dan 1970-an Vespa menjadi simbol dari revolusi gagasan pada waktu itu.
 

Perkembangan selanjutnya, produk ini ternyata laris diserap pasar Prancis, Inggris, Belgia, Spanyol, Brazil, dan India -- selain di pasar domestik produk ini laku bagai kacang goreng. Selain itu, India pun memproduksi jenis dan bentuk yang sama dengan mengambil mesin Bajaj. Jenisnya adalah Bajaj Deluxe dan Bajaj Super. Sejumlah pihak lantas mengajukan lamaran untuk joint membuat Vespa. Maka pada 1950 munculah Vespa 125 cc buatan Jerman.
 
Pada saat itu banyak negara lain yang mencoba membuat produk serupa, tetapi ternyata mereka tak sedikit pun mampu menyaingi Piaggio. Di antara pesaing itu adalah Lambretta, Heinkel, Zundapp, dan NSU. Bagi masyarakat Indonesia, produk Lambretta dan Zundapp, sempat populer di era 1960-an.
 

Selidik punya selidik, fanatisme terhadap Vespa ternyata muncul akibat ciri dasar bentuk motor ini yang selalu dipertahankan pada setiap produk berikutnya. Bahkan saat mereka terbilang melakukan ''revolusi'' bentuk pada produk baru, Vespa 150 GS, kekhasan pantat bahenol masih terasa melekat.
 

Produk 150 GS -- kala itu dikenal sebagai Vespamore dan hampir selalu tampil di tiap film tahun 1960-an -- memang kemudi dan lampu sorotnya mulai dibuat menyatu. Tetapi, secara keseluruhan apalagi bentuk pantatnya, benar-benar masih membulat.
 Dan cerita terus berlanjut saat ini dengan model generasi baru Vespa, mempersembahkan Vespa ET2, Vespa ET4, Vespa Granturismo dan Vespa PX150. Vespa bukan hanya sekedar Scooter tapi salah satu Icon besar orang Italia. 
Vespa Congo


Sejarah Vespa di Indonesia
 

“Demam Vespa” di tanah air sangat di pengaruhi oleh “Vespa Congo”. Vespa diberikan sebagai Penghargaan oleh Pemerintah Indonesia terhadap Pasukan Penjaga Perdamaian Indonesia yang bertugas di Congo saat itu.
 

Menurut beberapa narasumber, setelah banyak Vespa Congo berkeliaran di jalanan, mulailah Vespa menjadi salah satu pilihan kendaraan roda dua di Indonesia. Importir lokal turut mendukung perkembangan Vespa di tanah air.
 

Sampai saat ini sudah puluhan varian Vespa yang mampir di Indonesia. Dari yang paling tua hingga yang paling baru ada di Indonesia. Sampai saat ini Indonesia mungkin masih bisa disebut sebagai surganya Vespa. Maraknya ekspor Vespa, sedikit banyak mengurangi populasi Vespa di Indonesia.

Baca Selengkapnya......

Sejarah Bemo yang Terlupakan

Bukasanabukasini Kendaraan berbentuk lucu dan unik ini dulunya sempat menjadi raja jalanan di sejumlah negara Asia termasuk Indonesia. Bentuk unik dan kapasitas muatan penumpang dan barang yang lebih besar dari pada bajaj dan becak membuat Bemo menjadi sarana angkutan favorit di negeri kita era tahun 60-an, 70-an, sampai awal 80-an. Saking lekatnya ingatan orang pada bemo, sampai-sampai bentuknya sering diasosiasikan pada bentuk muka seseorang. Tentu anda masih ingat kan dengan salah satu komedian terkenal Alm. Wahyu Sardono alias Dono Warkop DKI yang sering dijuluki Dono Bemo.
Bukasanabukasini.


Sayangnya, walaupun bemo dulunya sangat terkenal mungkin masih banyak orang yang belum tahu asal usul bemo ini termasuk saya sendiri. Karena penasaran ditambah rasa kangen pengen naik bemo lagi (walaupun sekarang sudah hampir punah), maka dibuatlah artikel ini.  Nah, berikut ada sedikit kisah sejarah tentang asal-usul Bemo.

Sejarah Asal Usul Bemo

Bemo (singkatan dari ‘BEcak MOtor’) merupakan kendaraan bermotor roda tiga yang biasanya digunakan sebagai angkutan umum. Bemo mulai dipergunakan di Indonesia pada awal tahun 1962 di Jakarta untuk menyemarakkan iven olahraga Ganefo. Setelah laku keras di Jakarta, bemo mulai merambah ke daerah-daerah lain di Indonesia. Kehadiran bemo dimaksudkan untuk menggantikan becak karena kendaraan ini sangat praktis dan mampu menjangkau jalan-jalan yang sempit, dan dapat melaju jauh
 lebih cepat daripada becak.






Berawal dari Jepang

Bemo adalah salah satu produk dari
 pabrikan otomotif terkenal Daihatsu. Pabrikan ini dulunya populer sebagai produsen truk kecil beroda tiga. Setelah Toyota mengeluarkan truk beroda empat di tahun 1954 (populer sebagai Toyoace), permintaan atas truk roda tiga Daihatsu terus merosot. Daihatsu kemudian berinovasi mengembangkan kendaraan beroda tiga yang waktu itu boleh dikemudikan pemegang SIM mobil kompak di Jepang. Hasilnya adalah Daihatsu Midget yang mulai dipasarkan tahun 1957.Kendaraan ini berukuran kecil sehingga diberi nama "midget" (kerdil).

Daihatsu Midget lalu diekspor ke beberapa negara Asia termasuk Indonesia. Dan, meluncurlah kendaraan Daihatsu pertama di Indonesia: Daihatsu Midget alias Bemo.

Evolusi
 Prototip Bemo

Model DK
 mulai dijual 1 Agustus 1957. Kemudi berbentuk stang seperti sepeda motor. Ruang pengemudi dan ruang muatan memiliki atap dari kanvas. Ruang pengemudi tidak berpintu. Panjang keseluruhan: 2.540 mm, lebar keseluruhan: 1.200 mm, tinggi keseluruhan: 1.500 mm. Penumpang maksimum 1 orang. Mesin tipe ZA, dua langkah, berpendingin sistem kipas, kapasitas silinder 250 cc, bahan bakar bensin. Kekuatan maksimum 10 tenaga kuda. Kecepatan maksimum 65 km/jam (spesifikasi dari katalog). Maksimum muatan 300 kg, berat kosong 350 kg. Variasi model berdasarkan model DK: DKA (model awal), DKII, DSV (bagian belakang dibuat kotak), DSAP (kapasitas 2 tempat duduk).

Model MP
 mulai dijual bulan Oktober 1959. Bagian hidung sebelah dalam menjadi bagian dari ruang pengemudi, dan bentuknya lebih manis dan halus dibandingkan model DK. Model MP mulai menggunakan stir bundar sehingga lebih mudah dikendarai. Ukuran lebih besar dibandingkan model sebelumnya, panjang keseluruhan: 2.970 mm, lebar keseluruhan: 1.295 mm, dan tinggi keseluruhan: 1.455 mm. Kapasitas tempat duduk: 2 orang. Mesin yang digunakan adalah tipe ZA, dan tipe ZD untuk Midget tipe III (kapasitas silinder: 305 cc, kekuatan maksimum 12 tenaga kuda). Model yang diproduksi: Tipe II (mesin tipe ZA), Tipe III (mesin tipe ZD).
  • 1960 - Daihatsu memperkenalkan tipe MP4 dengan panjang keseluruhan ditambah 20 cm agar bisa mengangkut muatan lebih banyak.
  • 1961 - Midget mulai diproduksi di Pakistan dengan sistem produksi bongkar pasang.
  • 1963 - Daihatsu memperkenalkan tipe MP5 dengan ruang muatan yang diperpanjang 10 cm, dan maksimum muatan 350 kg. Tipe ini tidak lagi menggunakan bensin campur, melainkan bensin dan oli yang dipisah.
  • 1972 - Produksi Midget dihentikan dengan total kumulatif produksi 336.534 unit, dan separuh dari jumlah tersebut terjual di Asia Tenggara.
1996–2001 - Daihatsu memproduksi mobil kompak beroda empat yang disebut Daihatsu Midget II






Mendekati Kepunahan?

Satu keunikan bemo yang tidak bisa dilupakan selain
 tongkrongan lucunya adalah posisi tempat duduk penumpangnya. Karena di negeri asal, Jepang, bemo hanya dimanfatkan sebagai angkutan barang, maka ketika di negara kita dipasangkan tempat duduk, ruangan yang tersedia menjadi sempit. Apalagi biasanya bemo digunakan untuk mengangkut paling kurang delapan penumpang: 6 di bagian belakang dan 2 di depan, termasuk sang sopir. Karena itu penumpang di bagian belakang seringkali harus beradu lutut, duduk berdesak-desakan. Akibatnya, menumpang bemo dapat menimbulkan kenangan manis tersendiri, khususnya bagi mereka yang mungkin mendapat pacar gara-gara beradu lutut di bemo. Hmm, apakah anda salah satunya?

Sayang, bemo saat ini sudah banyak dihapuskan dari skema angkutan kota karena dianggap sudah terlalu tua, tidak aman lagi dan asapnya menyebabkan polusi. Namun di berbagai tempat bemo masih mampu bertahan dan sulit dihapuskan. Walaupun demikian, nama ‘Bemo’ tetap melekat dan terpatri di benak orang Indonesia. Terbukti apabila mau naik kendaraan angkutan umum orang sering menggampangkan sebutannya dengan naik bemo, meski bentuk
 kendaraan umum yang dinaiki itu jauh beda dengan bemo. Malangnya nasibmu Bemo, dulu menggemaskan sekarang mengenaskan.

Sumber:
  • Wikipedia
  • http://www.kaskus.us/showthread.php?p=38114000
  • http://www.kutu.com/indo/jakarta/jakarta2003.htm
  • http://www.wartakota.co.id
  • http://www.mediaindonesia.com

Baca Selengkapnya......

Senin, 31 Oktober 2011

Sejarah Hello Kitty

Bukasanabukasini - Hello Kitty diciptakan oleh perancang dari Sanrio yang bernama Shimizu Ikuko pada tahun 1974 yang merupakan tahun kelahiran resmi Hello Kitty. Penjualan barang-barang Hello Kitty baru dimulai pada bulan Maret 1975. Barang Hello Kitty pertama dipasarkan berupa dompet kecil yang disebut Puchi Purse dengan harga 240 yen.

Bukasanabukasini.

 Perusahaan Sanrio bahkan tidak lagi memiliki dompet Puchi Purse sampai mendapat sumbangan sebuah dompet Puchi Purse dari seorang kolektor yang sekarang dipamerkan di kantor perusahaan. Dompet Puchi Purse kemudian dibuat replikanya dan dijual sebagai barang dalam jumlah terbatas.

Karakter dalam barang Hello Kitty dari tahun 1974 sampai tahun 1975 belum diberi nama. Pada dompet Puchi Purse yang merupakan produk pertama hanya tertulis kata "Hello!" (tanpa tulisan "Kitty"). Pada awalnya orang Jepang mengenal karakter Kitty White sebagai "kucing putih tidak bernama," sampai akhirnya perusahaan memberi nama "Kitty" yang diambil dari nama kucing berbulu putih yang tampil dalam cerita Alice di Negeri Kaca (Through the Looking-Glass) oleh Lewis Carroll. Pada mulanya Kitty White tidak memiliki nama keluarga atau nama keluarganya tidak diumumkan, "White" sebagai nama keluarga baru ditambahkan di kemudian hari.

Pada produk-produk awalnya, Kitty selalu digambarkan sedang duduk dan baru pada tahun 1977 Kitty digambarkan berdiri. Pada tahun 1996, Hello Kitty kembali menjadi populer secara mendadak di kalangan siswa putri sekolah menengah pertama dan sekolah menengah berkat penyanyi Jepang yang populer pada saat itu Kahara Tomomi mengaku sebagai penggemar berat Hello Kitty dalam salah satu acara televisi.

Di Jepang, kepopuleran Hello Kitty mencapai titik paling rendah di sekitar tahun 1980-an. Pada tahun 1980, Yonekubo Setsuko yang merupakan desainer generasi kedua digantikan oleh Yamaguchi YÅ«ko yang masih memegang posisi desainer hingga sekarang. Penampilan karakter Kitty selalu diperbarui setiap tahun, bahkan penampilan Kitty berbeda-beda setiap pergantian musim. Perusahan juga mengubah target pemasaran dan melakukan berbagai macam inovasi agar angka penjualan yang tinggi dapat dipertahankan.


Penelitian mengenai kembalinya kepopuleran Hello Kitty di Jepang pada tahun 1996 belum pernah dilakukan orang, sehingga mungkin saja Hello Kitty kembali populer berkat jasa Kahara Tomomi atau mungkin juga Hello Kitty sudah lebih dulu populer tapi beritanya tidak diangkat oleh media massa. Dalam pernyataannya di tahun 1997, direktur perusahaan Sanrio pernah mengakui bahwa Hello Kitty kembali populer di Jepang berkat Kahara Tomomi.
Pada tahun 2004, Kitty menjabat sebagai "teman khusus anak-anak" di UNICEF hingga tanggal 1 November 2004). Selain itu, Kitty juga pernah dua kali menjabat sebagai duta UNICEF, pertama di tahun 1983 (UNICEF America Junior Ambassador) dan yang kedua kalinya di Jepang pada tahun 1994.

Di Amerika Serikat, Hello Kitty menjadi populer di akhir tahun 1990-an berkat beberapa orang selebritis seperti Mariah Carey yang menggunakan Hello Kitty sebagai gaya busana. Hello Kitty juga pernah menjadi maskot iklan untuk pasar swalayan Target. Ricky Martin, Cameron Diaz, Heidi Klum, Steven Tyler, Carmen Electra, Mandy Moore, Raven-Symoné, hingga Paris Hilton dan Nicky Hiltonsemuanya pernah terlihat menggunakan barang-barang Hello Kitty. Penyanyi Lisa Loeb merupakan penggemar berat Hello Kitty hingga salah satu albumnya diberi nama Hello Lisa yang dipersembahkan kepada Hello Kitty.

Sumber :  §  Hello Kitty Hello Everything! - 25 Years of Fun!, Marie Y. Moss, ISBN 0-8109-3444-2
                 §  Hello Kitty - The remarkable story of Sanrio and the billion dollar feline phenomenon, Ken Belson & Brian Bremner, ISBN 0-470-82094-2

Baca Selengkapnya......

Selasa, 06 September 2011

Sejarah Purna Paskibraka Indonesia (PPI)

Bukasanabukasini - Cikal bakal berdirinya organisasi alumni Paskibraka sebenarnya dimulai secara nyata di Yogyakarta. Pada tahun 1975, sejumlah alumni (Purna) Paskibraka tingkat Nasional yang ada di Yogya, berkeinginan untuk mendirikan organisasi alumni, lalu mereka menyampaikan keinginan itu kepada para pembina di Jakarta. Para pembina lalu menawarkan sebuah nama, yakni REKA PURNA PASKIBRAKA yang berarti ikatan persahabatan para alumni Paskibraka.
Bukasanabukasini. (Lambang PPI).
Tapi, di Yogya nama itu kemudian digodok lagi dan akhirnya disepakati menjadi PURNA EKA PASKIBRAKA (PEP) Yogyakarta, yang artinya wadah berhimpun dan pengabdian para alumni Paskibraka. PEP di Yogya resmi dikukuhkan pada 28 Oktober 1976. Seiring dengan itu, para alumni Paskibraka di Jakarta kemudian meneruskan gagasan pendirian organisasi REKA PURNA PASKIBRAKA (RPP). Sementara di Bandung, berdiri pula EKA PURNA PASKIBRAKA (EPP). Namun, dalam perkembangannya, ketiga organisasi itu belum pernah melakukan koordinasi secara langsung untuk membentuk semacam forum komunikasi di tingkat pusat. Sementara itu, di daerah lain belum ada keinginan untuk membentuk organisasi, karena jumlah alumninya masih sedikit – berbeda dengan Jakarta, Bandung dan Yogya yang menjadi kota tujuan para alumni Paskibraka untuk melanjutkan sekolah. Sampai awal 80-an, alumni Paskibraka di daerah lain hanya dibina melalui Bidang Binmud Kanwil Depdikbud. Mereka selalu dipanggil sebagai perangkat dalam pelaksanaan berbagai upacara dan kegiatan. Mereka dilibatkan dalam kegiatan pembinaan generasi muda, karena dianggap potensial sesuai predikatnya.


Tahun 1980, Direktorat Pembinaan Generasi Muda (PGM) berinisiatif untuk mendayagunakan potensi alumni berbagai program yang telah dilaksanakan, termasuk program pertukaran pemuda Indonesia dengan luar negeri (saat itu baru CWY atau Indonesia-Kanada dan SSEAYP atau Kapal Pemuda ASEAN-Jepang). Organisasi itu diberi nama PURNA CARAKA MUDA INDONESIA (PCMI). Maka, selain di Jakarta, Bandung dan Yogya, seluruh Purna Paskibraka di daerah lainnya digabungkan dalam PCMI. Hal itu berlangsung sampai tahun 1985, ketika Direktorat PGM ”menyadari” bahwa penggabungan Purna Paskibraka dengan alumni pertukaran pemuda bukanlah sebuah pilihan yang tepat. Karena itu, sebagai hasil dari Lokakarya Pembinaan Purna Program Binmud di Cisarua, Bogor —yang dihadiri oleh para Kabid Binmud seluruh Indonesia serta para alumni Paskibraka dan pertukaran pemuda— dikeluarkan SK Dirjen Diklusepora No. Kep.091/ E/O/1985 tanggal 10 Juli 1985 yang memisahkan para alumni dalam dua organisasi, masing-masing PCMI untuk alumni pertukaran pemuda dan PURNA PASKIBRAKA INDONESIA (PPI) untuk alumni Paskibraka. Dengan alasan untuk menjaga agar keputusan itu tidak ”mencederai hati” para Purna Paskibraka yang telah lebih dulu mendirikan PEP, RPP dan EPP, maka ditetapkanlah bahwa PPI adalah organisasi binaan Depdikbud yang bersifat regionalprovinsial. Artinya, organisasi itu ada di tiap provinsi namun tidak mempunyai Pengurus di tingkat pusat. Itu, sebenarnya sebuah pilihan yang sulit, bahkan ”absurd”. Bagaimana sebuah organisasi bernama sama dan ada di tiap provinsi tapi tidak mempunyai forum komunikasi dan koordinasi di tingkat pusat. Ternyata, hal itu dipicu oleh kekhawatiran organisasi kepemudaan ”tunggal” asuhan pemerintah yang melihat PPI adalah sebuah ancaman. Namun, dengan kegigihan para Purna Paskibraka yang ada di Jakarta, akhirnya kebekuan itu dapat dicairkan. Empat tahun harus menunggu dan bekerja keras untuk dapat menghadirkan Pengurus PPI daerah dalam sebuah Musyawarah Nasional (Munas). Tanggal 21 Desember 1989, melalui Munas I di Cipayung, Bogor, terbentuklah secara resmi PPI Pusat, lengkap dengan perangkat Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART).

Sumber    : Bulletin Paskibraka 78, Edisi Oktober 2007

Baca Selengkapnya......

Senin, 05 September 2011

Husein Mutahar, Bapak Tujuhbelas Agustus

Bukasanabukasini Bagi kawan - kawan Paskibraka pastinya tidak asing lagi mendengar nama Bapak yang satu ini. Yap.. Bapak Husein Mutahar, atau biasa dijuluki Bapak Tujuhbelas Agustus. Teman - teman tahu tidak jasanya selain pelopor Paskibraka, apa lagi ya yang dilakukan oleh Bapak Mutahar pada masanya?? Ok, kita simak Artikel kali ini akan mengupas secara dalam mengenai jasa beliau. Langsung saja.. >>>
Bukasanabukasini. (Mayor (L) Husein Mutahar).


Sabtu pagi di Istana Merdeka, ada pemandangan yang unik terjadi pada hari 1 Maret 1969. Tiga orang putra terbaik dilantik oleh Presiden Soeharto menjadi duta besar untuk negara-negara sahabat. Apanya yang unik? Satu dari tiga orang itu, ada satu pria unik yang tak pernah jadi diplomat sebelumnya. Sebaliknya, dia lebih banyak berada di Indonesia dalam karya dan jasa di bidang-bidang lain bagai kutu loncat.


Dia pernah bertempur melawan Belanda di Semarang dalam “Pertempuran Lima Hari”, pernah jadi supir Presiden Soekarno, dinobatkan sebagai pendiri kepanduan Indonesia, jago menciptakan lagu-lagu himne perjuangan yang pilu tetapi membakar, pinter table manner dalam mengelola rumah tangga istana kepresidenan di Jogjakarta, pernah jadi pelaut dan banyak lagi talentanya bagaikan aktor terkenal Peter O’Toole yang suka gonta ganti wajah.
Pria berhidung mancung ini memiliki profesi bermacam-macam, tetapi karir tertingginya, ya jadi duta besar Indonesia untuk Tahta Suci di Vatikan. Dalam masa jabatan sebagai wakil rakyat Indonesia di pusat gereja Katolik sedunia itu, dia mengatur kunjungan pertama kalinya seorang paus datang ke Indonesia, Paus Paulus VI, tahun 1970 dan mempersiapkan dengan kedatangan Presiden Soeharto pertama dan terakhir kalinya ke St. Peters (Gereja Santo Petrus) tahun 1971.
St. Petrus.
Jabatan yang dia emban itu sebelumnya pernah dijabat oleh ayah kandung Chandra Darusman itu (Busono Darusman adalah duta besar Indonesia untuk Vatikan antara 1960-1962) dan tokoh Negara Pasundan terkenal, Djoemhana Wiriatmadja di awal 1950-an. Bahkan tahun 1990, pos ini pernah diisi oleh Presiden Soeharto dengan orang yang paling dipercayainya, yaitu penterjemah presiden yang selalu nguping setiap pembicaraan presiden dengan tokoh-tokoh dunia selama lebih 20 tahun, Widodo Susetyo.
Namun yang paling penting, Mutahar yang menjadi duta besar di Vatikan selama 4 tahun, adalah arsitek pembentukan pasukan pengibar bendera pusaka (paskibraka) yang hadir di setiap perayaan 17an di istana kepresidenan, dan ditiru sampai tingkat yang lebih rendah, dari upacara 17an di gubernuran, kabupatenan, kecamatan, kelurahan, instansi pemerintah dan upacara-upacara wajib di sekolah. Tata cara pengibaran bendera pusaka yang kita kenal hingga sekarang ini adalah karya tata olah gerak Mutahar.
Lalu apa sebenarnya peran dan jasa Kak Mut bagi proklamasi? (panggilan akrab Husein Mutahar dalam tradisi gerakan kepanduan Indonesia atau Pramuka yang dia dirikan) Wuaaaaaaaaaaaahh…lupa tuh! Mana ada yang mau ingat apa yang telah dilakukan secara heroik oleh pria keturunan Arab ini? Apalagi menghargai jasanya pada proklamasi? Waktu dia wafat saja tahun 2004 (dalam usia 88 tahun), pengantarnya naik Kopaja (sejenis Metro Mini) sewaan, bukan bis mewah ber-AC menuju ke pemakaman yang terkenal dengan urban legend pastur kepala buntung, di TPU Jeruk Purut, Jakarta Selatan. Padahal dia berhak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan!
“Dengan ini saya mengangkatmu sebagai letnan”, kata Soekarno kepada Mutahar, yang diangkat sebagai ajudan presiden pada masa ibukota di Jogjakarta. Soekarno sangat membutuhkan seorang yang pandai mengatur protokol kepresidenan saat krtitis itu. Pilihan jatuh ke Mutahar. Namun pengangkatan Mutahar “diprotes” oleh orang dalam istana. “Masak ajudan Ratu Juliana dengan 10 juta rakyat pangkatnya kolonel, kok Presiden Soekarno dengan70 juta rakyat cuma letnan?”.
Satu setengah jam setelah Mutahar diangkat sebagai letnan, Soekarno memanggilnya. “Mulai sore ini engkau jadi Mayor”, kata Soekarno singkat. Jadilah Mutahar orang tercepat karirnya dalam dunia militer Indonesia.
Mutahar sangat teliti dalam menata hal-hal pernik perintil kecil-kecil. Makanya Soekarno mempercayainya menata protokol pengibaran bendera pusaka Merah Putih untuk dikibarkan pertama kalinya, pada perayaan HUT RI Pertama 1946 di Jogjakarta hingga sekarang. Karena dalam keadaan genting dan kritis, Soekarno tak punya pengalaman bagaimana caranya merayakan pertama kalinya HUT RI. Ya, Mutaharlah arsiteknya hingga tata cara perayaan tujuhbelasan kita lakukan sampai kini.
Paskibraka.
Bahkan lebih dari itu, ketika negara RI hampir mati di serang Belanda pada 19 Desember 1948 (RI sudah mampus bagi Belanda saat itu), Soekarno mempercayai sepenuh hati kepada Mutahar untuk menjaga bendera pusaka yang pertama kali dikibarkan pada 17 Agustus 1945. “Jaga bendera ini dengan nyawamu”, pesan Soekarno sebelum dibuang ke Bangka dan Prapat oleh Belanda.
Begitu setianya dengan pesan Soekarno untuk menjaga bendara pusaka dengan nyawanya, terpaksa bendera itu pernah terpisah dua untuk segi keamananan. Terobek antara merah dan putih. Takutnya tentara Belanda tahu, pasti akan dimusnahkan, karena kain jelek itu adalah simbol suci negara RI.
Suatu hari di tahun 1949, Mutahar secara misterius dan penuh ketakutan akan kejaran tentara Belanda, menyerahan amanat titipannya itu kepada Dr. Soeharto, dokter pribadi Soekarno, di rumah sang dokter di Jalan Kramat 128, Jakarta Pusat. Dan sang dokter menyimpannya di dua tempat terpisah, agar mengelabui tentara Belanda yang hobinya gledah menggledah rumah siapa saja yang dicurigai.
Mutahar pun pernah mengambil bendera pusaka itu dan menyembunyikan di tempat lain dengan berpindah-pindah, agar tak dirampas Belanda. Sampai akhirnya, ketika Soekarno kembali ke Jakarta pada 29 Desember 1949, setelah minggat 4 tahun ke Jogjakarta, Bendera Pusaka dibawa kembali bagaikan benda suci. Nah, Bendera Pusaka itu dijahit kembali oleh Mutahar dengan teliti, persisi pada lubang-lubang jarum yang sama seperti pertama kali dijahit Ibu Fatmawati. Woooh… teliti sekali…!!!!
Peran Mutahar yang dipercayai Soekarno karena piawai dalam soal protokuler resmi kenegaraan, sama dengan peran yang dijalani oleh Joop Ave dalam kepiawaian protokuler dan kehumasan di jaman Presiden Soeharto. Kehebatan Joop Ave dalam hal itu, membuat dia disayangi oleh Soekarno dan Soeharto. Bahkan Ratu Elizabeth II pernah memuji cara kerja Joop Ave, seolah sang ratu iri ingin memilikinya.
Mutahar dan Joop Ave.
Tapi, Mutahar lebih dari Joop Ave. Ketika tahun 1944 dia menciptakan lagu himne “Syukur”, yang dia ciptakan untuk kemerdekaan Indonesia yang sudah dekat menurut penerawangannya. Lebih dari itu, pernah di masa revolusi, Mutahar kebelet ke toilet di Hotel Garuda, Jogjakarta (dia sekamar dengan Hoegeng, kelak jadi kapolri terbersih). Dalam toilet itu, dia tak hanya menuangkan,maaf ,hajatnya, tapi juga menuangkan ide brilyannya: sebuah lagu perjuangan terkenal tercipta dari toilet. Terdengar seperti lelucon.. Tapi itulah fakta sejarahnya.
Hotel Garuda, Jogjakarta.
Tujuh belas Agustus tahun empat lima
Itulah hari kemerdekaan kita
Hari merdeka
Nusa dan bangsa
Hari lahirnya bangsa Indonesia…
MERDEKAAAAA….

Semoga artikel ini dapat menumbuhkan rasa peduli kita terhadap Tanah Air tercinta, Indonesia. Rasa bangga terhadap pahlawan, dan rasa bangga terhadap Paskibraka. Mohon maaf jika ada kesalahan ketik.. komentar dari teman - teman sangat berguna bagi kemajuan Blog ini. Suksma (dalam bahasa Bali yang artinya Terima kasih). ^_^
SUMBER:
1. Saksi Sejarah, DR. Soeharto, PT Gunung Agung, Jakarta, 1982.
2. Kesaksian Tentang Bung Karno 1945-1967, H. Mangil Martowidjojo, Grasindo, Jakarta, 1999
3. Jejak Langkah Pak Harto 28 Maret 1968-23 Maret 1973, Team Dokumentasi Presiden RI,
PT Citra Kharisma Bunda, Jakarta, 2003.

Baca Selengkapnya......

Percobaan Pembentukan Pasukan Pengerek Bendera Pusaka

Percobaan Pembentukan Pasukan Pengerek Bendera Pusaka Tahun 1967 dan Pasukan Pertama Tahun 1968

Bukasanabukasini - Pada tahun 1967, Bapak Husein Mutahar dipanggil oleh Presiden Soeharto untuk menangani lagi masalah pengibaran Bendera Pusaka. Dengan ide dasar dan pelaksanaan tahun 1946 di Yogyakarta, beliau kemudian mengembangkan lagi formasi pengibaran menjadi 3 kelompok, yaitu :
Bukasanabukasini.

-      Kelompok 17- PENGIRING/PEMANDU
-      Kelompok 8 - PEMBAWA/INTI
-      Kelompok 45- PENGAWAL
Ini merupakan simbol/gambaran dari tanggal Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia: 17 Agustus 1945 (17-8-45). Pada waktu itu, dengan situasi dan kondisi yang ada, beliau melibatkan putra daerah yang ada di Jakarta dan menjadi anggota Pandu/ Pramuka untuk melaksanakan tugas pengibaran Bendera Pusaka. Semula, rencana beliau untuk kelompok pengawal 45 akan terdiri dari para mahasiswa AKABRI (generasi muda ABRI •sekarang TNI), tetapi libur perkuliahan dan transportasi Magelang - Jakarta menjadi kendala, sehingga sulit dilaksanakan. Usul lain untuk menggunakan anggota Pasukan Khusus ABRI (seperti RPKAD, PGT, MARINIR. dan BRIMOB) juga tidak mudah. Akhirnya, kelompok pengawal 45 diambil dari Pasukan Pengawal Presiden (PASWALPRES) yang mudah dihubungi dan sekaligus mereka bertugas di Gedung Istana, Jakarta.

Pada tanggal 17 Agustus 1968, petugas pengibar Bendera Pusaka adalah para pemuda utusan provinsi. Akan tetapi, provinsi - provinsi belum seluruhnya mengirimkan utusan, sehingga masih harus ditambah oleh mantan anggota pasukan tahun 1967. Tahun 1969 karena Bendera Pusaka kondisinya sudah terlalu tua sehingga tidak mungkin lagi untuk dikibarkan, dibuatlah duplikat Bendera Pusaka. Untuk dikibarkan di tiang 17 m Istana Merdeka, telah tersedia bendera merah putih dan bahan bendera (wol) yang dijahit 3 potong memanjang kain merah dan 3 potong memanjang kain putih kekuning-kuningan.
Bendera Merah Putih Duplikat Bendera Pusaka yang akan dibagikan ke daerah terbuat dari sutra alam dan alat tenun asli Indonesia, yang warna merah dan putih langsung ditenun menjadi satu tanpa dihubungkan dengan jahitan dan warna merahnya cat celup asli Indonesia. Pembuatan Duplikat Bendera Pusaka ini dilaksanakan oleh Balai Penelitian Tekstil Bandung dibantu PT Ratna di Ciawi Bogor. Dalam praktik pembuatan Duplikat Bendera Pusaka, sukar untuk memenuhi syarat yang ditentukan Bapak Husein Mutahar karena cat asli Indonesia tidak memiliki warna merah bendera yang standar dan pembuatan dengan alat tenun bukan mesin memerlukan waktu yang lama.

Tanggal 5 Agustus 1969, di Istana Negara Jakarta, berlangsung upacara penyerahan Duplikat Bendera Pusaka Merah Putih dan Reproduksi Naskah Proklamasi oleh Presiden Soeharto kepada Gubernur seluruh Indonesia. Hal ini dimaksudkan agar di seluruh Ibukota Propinsi dapat dikibarkan Duplikat Bendera Pusaka dan diadakan pembacaan naskah Proklamasi bersamaan dengan upacara peringatan Hari Proklamasi 17 Agustus di Istana Merdeka Jakarta. Selanjutnya, Duplikat Bendera Pusaka dan Reproduksi Naskah Proklamasi juga diserahkan kepada Kabupaten-Kota dan perwakilan-perwakilan Republik Indonesia di luar negeri.

Bendera duplikat (yang dibuat dari 6 carik kain) mulai dikibarkan menggantikan Bendera Pusaka pada peringatan Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik indonesia, tanggal 17 Agustus 1969, sedangkan Bendera Pusaka terlipat dalam kotak bertugas mengantar dan menjemput Bendera Duplikat yang dikibarkan/diturunkan.

Pada tahun 1967 s.d. tahun 1972, anggota Pasukan Pengibar Bendera adalah para remaja SMA setanah air Indonesia, yang merupakan utusan dari 26 provinsi di Indonesia. Setiap provinsi, diwakili oleh sepasang remaja yang, dinamakan Pasukan Pengerek Bendera Pusaka. Pada tahun 1973, Bapak Idik Sulaeman melontarkan suatu nama untuk anggota pengibar Bendera Pusaka dengan sebutan Paskibraka. Pas berasal dari Pasukan, dan kib; berasal dari pengibar, ra berasal dari bendera dan ka dari pusaka. Mulai saat itu, singkatan Pasukan Pengibar Bendera Pusaka adalah Paskibraka.

(dikutip dari Buku Pedoman Penyelenggaraan Kegiatan Paskibraka 2010 oleh Kemenpora RI).

Baca Selengkapnya......

Pengibaran Bendera Merah Putih di Gedung Agung Yogyakarta

Bukasanabukasini - Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-2 Kemerdekaan Republik Indonesia, Presiden Soekarno memanggil salah seorang ajudan beliau, yaitu Mayor (L) Husein Mutahar. Selanjutnya, Presiden Soekarno memberi tugas kepada Mayor (L) Husein Mutahar untuk mempersiapkan dan memimpin upacara peringatan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, tanggal 17 Agustus 1946, di halaman Istana Presiden Gedung Agung Yogyakarta.
Bukasanabukasini.

Bapak Husein Mutahar berpikir bahwa untuk menumbuhkan rasa persatuan bangsa, pengibaran Bendera Pusaka sebaiknya dilakukan oleh para pemuda se-Indonesia. Kemudian, beliau menunjuk 5 orang pemuda yang terdiri atas 3 orang putri dan 2 orang putra perwakilan daerah yang berada di Yogyakarta untuk melaksanakan tugas. Lima orang tersebut merupakan simbol dari Pancasila. Salah seorang dari pengibar bendera tersebut adalah Titik Dewi pelajar SMA yang berasal dari Sumatera Barat dan tinggal di Yogyakarta.

Pengibaran Bendera Pusaka ini kemudian dilaksanakan lagi pada peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, tanggal 17 Agustus 1947 dan tangga 17 Agustus 1948 dengan petugas pengibar bendera tetap orang dari perwakilan daerah lain yang ada di Yogyakarta.

Pada tanggal 6 Juli 1949, Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta beserta beberapa pemimpin Republik Indonesia lainnya, tiba kembali di Yogyakarta dari Bangka dengan membawa serta Bendera Pusaka. Pada tanggal 17 Agustus 1949, Bendera Pusaka kembali dikibarkan pada upacara peringatan detik-detik Proldamasi Kemerdekaan Republik Indonesia di depan Istana Presiden Gedung Agung Yogyakarta. Tanggal 27 Desember 1949, dilakukan penandatanganan. naskah pengakuan kedaulatan di negeri Belanda dan penyerahan kekuasaan di Jakarta. Sementara itu Di Yogyakarta, dilakukan penyerahan kedaulatan dari Republik Indonesia kepada Republik Indonesia Serikat. Tanggal 28 Desember 1949, Presiden Soekarno kembali ke Jakarta untuk memangku jabatan sebagai Presiden Republik Indonesia Serikat.

Setelah empat tahun ditinggalkan, Jakarta kembali menjadi Ibukota Republik Indonesia. Pada hari itu, Bendera Pusaka Sang Merah Putih dibawa ke Jakarta. Untuk pertama kali, peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, tanggal 17 Agustus 1950, diselenggarakan di Istana Merdeka Jakarta. Bendera Pusaka Sang Merah Putih berkibar dengan megahnya di tiang 17 m dan disambut dengan penuh kegembiraan oleh seluruh bangsa Indonesia. Regu-regupengibar dari tahun 1950-1966 dibentuk dan diatur oleh Rumah Tangga Kepresidenan.

(dikutip dari Buku Pedoman Penyelenggaraan Kegiatan Paskibraka 2010 oleh Kemenpora RI).

Baca Selengkapnya......
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...